“Go”tong Royong

( Mahakarya Indonesia )

Siapa bilang gotong royong kuno atau ketinggalan jaman? Siapa bilang gotong royong gak penting? Hanya orang egois yang bilang begitu. Walau jaman makin canggih, makin modern,  gotong royong  tetap masih diperlukan! Hingga sekarang, masih banyak masyarakat yang mau bergotong royong melakukan pekerjaannya. Silahkan amati kembali masyarakat sekelilingmu!

Coba anda bayangkan, ketika terjadi tsunami di Aceh, gempa bumi di Yogyakarta, letusan Gunung Sinabung di Tanah Karo, dan lain sebagainya. Tidak terbayangkan, jikalau bekerja sendiri-sendiri atau hanya dengan masyarakat sendiri. Bandingkan dengan bantuan masyarakat lain, banyak korban jiwa yang bisa dievakuasi, kebutuhan pangan, air bersih, dan pakaian tercukupi, rumah yang rubuh lebih cepat dirapikan, jalanan yang rusak segera bisa difungsikan, dan masih banyak fasilitas lain yang hancur yang bisa ditata kembali dengan cepat, karena gotong royong tersebut. Jadi, kalau bukan gotong royong, bagaimana menyelesaikan permasalahan seperti ini?

Sadarilah! kita tidak mungkin bisa hidup sendiri,  masyarakat kita juga butuh masyarakat lain. Perlu kita ingat, tidak semua pekerjaan   bisa dikerjakan sendiri. Adakalanya butuh orang lain, agar pekerjaan bisa dikerjakan lebih mudah dan lebih cepat.

Gotong Royong bagi bangsa kita adalah budaya bangsa yang sudah berakar, bisa dikatakan sebagai Mahakarya Indonesia. Budaya ini sudah dijalankan turun menurun dari satu generasi ke generasi, dan dianggap sangat membantu meringankan setiap pekerjaan. Bukan hanya itu saja, tetapi gotong royong berhasil membuat masyarakat saling menghargai, saling menghormati, rasa persatuan, serta bisa hidup berdampingan.

Perlu kita ketahui, bahwa hampir semua masyarakat kita, memiliki budaya, local genius tentang hidup bergotong royong. Walau  bentuk dan sebutan beda diberbagai daerah, tapi prinsipnya sama. Seperti  Siadapari di Sumatra Utara, Hoyak Tabuik di Padang Pariaman, Sumatera Barat, Gugur Gunung di Daerah Istimewa Yogyakarta , Sambatan di Pesisir Timur Jawa, Song-Osong Lombhung di Bangkalan, Madura, Ngayah di Bali, Pawoda di Nusa Tenggara Timur, Helem Foi Kenambai Umbai di Papua, Bari di Ternate, Maluku Utara, Ammossi di Sulawesi Selatan, Mapalus di Minahasa, Sulawesi Utara, Paleo di Kalimantan Timur, dan masih banyak lagi.

Itulah kekayaan budaya bangsa kita, kita patut berbangga dan berterimakasih kepada nenek moyang kita, yang telah memperkenalkan dan mewariskan budaya tersebut kepada kita sebagai generasi berikutnya. Mari lestarikan dan tetap kita laksanakan gotong royong dalam kehidupan kita sehari-hari. “Go“tong Royong.Mahakarya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s