Kalau Rezeki Tidak Akan Kemana #SMiLeInAja

“Pusing!!! ditolak lagi deh hari ini.”

Begitulah keluhanku hampir tiap hari ketika terjun di dunia marketing tahun 2002. Sejak selesai kuliah dan kemudian merantau ke Jakarta, saya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang marketing. Bagiku profesi marketing adalah pilihan terakhir dari skala prioritasku.

Kalaupun pada waktu itu akhirnya saya memutuskan untuk menerima profesi tersebut, itu adalah pelarian bagiku. Dari pada saya menganggur dan tidak ada pengalaman kerja. Apalagi waktu itu saya sudah melayangkan ratusan lamaran kerja, belum satupun pintu perusahaan yang terbuka dan bersedia menerimaku.

Sebagai marketing di sebuah lembaga asuransi, sejak awal memang kami telah diberi target. Rasanya berat bagiku, maklum saja ini adalah pengalaman pertamaku menjadi seorang marketing.

Satu bulan saya jalani hasilnya nihil, demikian bulan selanjutnya, ternyata sama saja. Nasabahku belum kunjung ada. Kepala makin pusing, apalagi setiap pagi dan sore selalu ada briefing dengan suvervisor tim. Kalau sudah ketemu, pasti pertanyaan itu ke situ juga. “Bagaimana pencapaian targetnya? Apa kendala di lapangan? Stategi apa yang akan dilakukan lagi?” Itu yang membuat terkadang frustrasi dan pengen cepat-cepat keluar dari pekerjaan tersebut. Bener kata temanku, kalau mental tidak kuat mending gak usah jadi marketing.

Suatu waktu, ketika istirahat sayapun mulai mengevaluasi diri dengan cara berefleksi. Apakah ini memang profesi yang sesuai denganku? Atau saya belum menemukan kiatnya untuk berhasil dibidang marketing? Setidaknya dua pertanyaan itu menjadi pertanyaanku hingga lembaga asuransi tersebut memutuskan bahwa saya tidak dilanjutkan lagi kontrak kerja di bulan berikutnya, karena target tidak tercapai bahkan menyediahkan lagi tidak ada satupun calon nasabah yang berhasil kuyakinkan.

Saya pun beralih profesi, menjadi seorang pengajar. Tetapi dua pertanyaan sebelumnya tetap terngiang. Bahkan dalam benak saya sering bertanya, kapan lagi ya saya mencoba menjadi marketing lagi? Terkadang rindu masa-masa itu.

Ternyata tahun 2009 adalah tahun jawaban dari perenunganku sebelumnya. Saya akhirnya memiliki kesempatan terjun kembali menjadi marketing produk kesehatan dengan sistem network. Saya mulai banyak belajar, mulai dari seminar, training, dan sharing. Ternyata ada banyak hal yang saya harus bongkar seputar mindset sebagai marketing.

bisnis

Salah satu mindset yang harus saya ubah, jangan pernah fokus pada hasil tapi fokuslah pada proses. Artinya setiap pengalaman harus dijadikan sebagai pembelajaran berharga. Bila hari ini gagal, besok harus coba lagi. Bila cara yang ini gagal, ayo gunakan cara dan strategi yang beda.

Selanjutnya setiap tantangan pun harus dihadapi dengan positif. Berpikir bahwa tantangan itu adalah sebagai pintu peluang untuk sukses. Sehingga harus selalu mengasah kecerdasan mengubah tantangan menjadi peluang (meminjam istilah Paul G. Stalz, kecerdasan AQ=Adversity Quotien). Sebab setiap profesi apa pun selalu ada tantangannya koq. Untuk itu kalau ada tantangan #SMiLeinAja. Sebab setiap tantangan akan membuat kita tangguh, kuat dan semakin dewasa.

smile2.jpg
Dokumen : Sinarmas MSIG Life

Berikutnya, sebagai marketing harus tetap berpegang teguh pada keyakinan bahwa hidup ini sudah ada yang ngatur, Sang pencipta kehidupan. Dialah pemberi rezeki. Ketika kita belum berhasil, ya tetaplah diyakini bahwa mungkin belum rezeki kita. Sebab kalau rezeki tidak akan kemana koq. Jadi sekali lagi #SMiLeinAja.

Itulah paradigma yang saya pegang. Alhasil tahun 2009-2012, ketika terjun dalam dunia marketing tersebut, saya pun lebih enjoy dan berhasil membangun sekitar 1000 orang dalam jaringan bisnisku. Tidak pernah saya bayangkan dan iimpikan seperti itu. Akhirnya saya berpikir ternyata saya juga bisa dan bahkan tergolong berhasil.

Walaupun sekarang saya fokus sebagai guru dan penulis, setidaknya saya memahami perjuangan seorang marketing, memiliki spirit seorang marketing. Bagi teman-teman yang masih berprofesi sebagai marketing saat ini, tetap semangat, walau tantangan ada tetap berpikir positif dan senantiasa belajar. Jangan lupa selalu spirit dari #SMileinAja. Sebab dengan senyum hati kita bisa bahagia, orang disekitar kita bisa merasakan sukacita.

Salam

Smile.png
Dokumen : Sinarmas MSIG Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s