Keahlian Tanpa Sertifikat Ibarat Mengemudi Tanpa SIM

Pernahkah Anda mendengar kata sertifikasi? Saya yakin bahwa istilah tersebut bukan sesuatu yang asing bagi kita. Jangan-jangan rekan pembaca pun ternyata adalah pemilik sebuah sertifikasi dari lembaga tertentu.

Kalau begitu, sebenarnya apa arti dari sertifikasi tersebut? Kalau saya ditanya, maka saya akan menjawab sesuai dengan pengalaman pribadi sebagai seorang guru. Sebab profesi saya sebagai guru pun telah diatur profesionalitasnya melalui sebuah proses sertifikasi.

Menurut pasal 1 ayat 1 UU no.14 tahun 2005 mengatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Sementara seseorang dikatan professional kalu mengacu pada pasal 1 ayat 4, bahwa profesional  itu adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.

Dengan demikian, seorang guru harus memenuhi profesionalitasnya tersebut yang dibuktikan dengan sertifikat. Sesuai dengan pasal 1 ayat 12 bahwa sertifikat pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga profesional.

Untuk itulah, beberapa tahun yang lalu tepatnya bulan Agustus 2012, saya pun wajib mengikuti kegiatan Pendidikan dan Latihan Profesisi Guru selama 10 hari di Lembang-Bandung untuk menjalani proses sertifikasi tersebut. Bersyukur bisa berhasil menuntaskannya tanpa harus mengulang. Jadi, lima tahun sudah saya resmi menjadi guru yang professional yang dibuktikan dengan sertifikat.

PLPG-2.jpg

Saat mengikuti PLPG, Agustus 2012, Lembang-Bandung. (Foto: Thurneysen)

Bidang Lain Butuh Sertifikasi

Sebenarnya bukan hanya profesi guru yang perlu menjalani proses sertifikasi. Merujuk pada hakikat sertifikasi tersebut bahwa sertifikasi merupakan bukti profesionalisme seseorang yang dapat menunjukkan bahwa seseorang memiliki keahlian, kemahiran, atau kecakapan dalam bidangnya.

Di masyarakat, ada banyak lembaga yang telah memberikan sertifikasi serta gelar kepada orang yang terbukti professional di bidangnya. Misalnya sertifikasi untuk profesi akuntan dengan gelar CPA, CA, dan CPMA. Ada juga sertifikasi untuk profesi manajemen SDM dengan gelar CHRM, untuk profesi financial analyst dengan gelar CFA, untuk profesi hipnoterapi dengan gelar CHt. Dan masih banyak lagi.

Bagaimana dengan orang dunia Teknologi Informasi (TI)? Tentu ada juga lembaga yang mengaturnya. Ada beberapa contoh sertifikasi yang popular untuk TI, diantaranya CCNA (Cisco Certified Network Associate), CCIE (Cisco Certified Internetwork Expert), RHCE (Red Hat Certified Engineer), MCTS (Microsoft Certified Technology Specialist), MCITP (Microsoft Certified IT Professional), PMP (Project Management Professional), CISSP (Certified Information Systems Security Professional), CCSA (Check Point Certified Security Administrator), VMware Certified Professional, dan CompTIA A+ dan masih banyak lagi.

Arti Penting Sertifikat

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, bahwa sertifikat tersebut berfungsi sebagai pengakuan secara formal atas keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang kita miliki dalam bidang tertentu.

Bahkan berdasarkan pengalaman, ada saja kesulitannya kemudian hari ketika kita memiliki keahlian tapi tidak bisa membuktikannya dengan sertifikat.

Mungkin pembaca pernah mendengar berbagai pengalaman dari rekan-rekan pencari kerja. Ternyata tidak sedikit yang ditolak bekerja karena tidak memiliki sertifikat, padahal sesungguhnya mereka memiliki keahlian. Jadi seberapa pentingkah sertifikat tersebut? Pembaca sendiri pasti dapat menyimpulkannya dari contoh tersebut.

Disamping itu, kita bisa mengambil contoh dari seseorang pengendara sepeda motor atau mobil.  Apa kira-kira yang bakalan terjadi saat Razia tidak bisa menunjukkan kepemilikan SIM? Semua pasti bisa jawabannya. Orang tersebut dipastikan berurusan dengan pihak polisi, ditilang.

Jadi keahlian tanpa sertifikat sama saja artinya dengan mengemudi tanpa SIM. Tidak ada pengakuan.

Untuk itu, ketika anda sudah memiliki sebuah keahlian, misalnya sebagai web master, graphic design, digital marketing, web programing, dan web design maka usahakanlah untuk memperolehnya sertifikatnya juga. Suatu saat tentu akan diperlukan. Apalagi Anda ingin melamar sebuah pekerjaan.

Atau anda juga ingin memiliki keahlian seperti di atas, web master, graphic design, digital marketing, web programing, dan web design?  Carilah tempat kursus atau lembaga kursus yang terpercaya yang bisa mengajarkanmu keahlian tersebut sekaligus memberikan sertifikatnya.

Untuk urusan web master, graphic design, digital marketing, web programing, dan web design dumet school jagonya tuh! Lulusannya banyak yang sudah berhasil loh! Coba simak video berikut sebagai bukti nyata.

Atau kalau mau bukti, monggo silahkan dicoba aja dulu ya! Ini saya punya informasi untuk program free trial diklik aja dulu!

____________________

Sumber Referensi :

https://bpptik.kominfo.go.id/2012/05/09/260/10-sertifikasi-teknologi-informasi-untuk-meningkatkan-karir-di-2012/

http://sumberdaya.ristekdikti.go.id/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s