Guru Sejarah Janganlah Melupakan Geospasial

Kalau Bung Karno pernah berpidato pada perayaan HUT RI tanggal 17 Agustus 1966 tentang Jasmerah atau yang kita kenal dengan kepanjangannya “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”. Maka dalam kaitannya dengan geospasial, saya pun pernah berujar kepada siswaku di sekolah, “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Geospasial (dalam bentuk peta)” untuk belajar sejarah.

peta-nkri-baru-2017-.jpg
Sumber : https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/07/20/peta-indonesia-diperbarui-begini-perbedaannya-dengan-yang-peta-lama

Sebenarnya apa maksud geospasial tersebut?

Geospasial tersebut berasal dari kata geo dan spasial. Geo artinya bumi, sementara spasial berdasarkan UU No.4 tahun 2011 pasal 1 ayat 1 dikatakan bahwa aspek keruangan suatu objek atau kejadian yang mencakup lokasi, letak, dan posisinya. Jadi dapat disimpulkan berdasarkan pasal 1 ayat 2 maka geospasial adalah adalah aspek keruangan yang menunjukkan lokasi, letak, dan posisi suatu objek atau kejadian yang berada di bawah, pada, atau di atas permukaan bumi yang dinyatakan dalam sistem koordinat tertentu.

Kempali ke topik awal, mengapa dalam sejarah kita tidak boleh meninggalkan geospasial? Bila merujuk pada unsur-unsur sejarah, bahwa sejarah itu tidak terlepas dari unsur manusia, waktu dan tempat. Jadi akan lengkap jika sebuah peristiwa sejarah tersebut tidak kita pisahkan dari unsur tempat (letak) disamping keberadaan unsur lainnya seperti manusia dan waktu yang juga penting.

Untuk itu sebagai seorang guru sejarah, sejatinya harus menghubungkan  materi pembelajaran sejarah dengan informasi dari peta. Tujuannya agar pembelajaran sejarah itu bersifat holistis. Siswa mengetahui peristiwa tersebut berdasarkan aspek tempat (letak) juga, tidak semata-mata mengetahui informasi waktu dan pelaku peristiwa sejarah saja.

Sepakat dengan yang tertuang pada situs kemendikbud yang pernah saya baca, bahwa “Salah satu bahan ajar yang dirasa perlu melengkapi proses belajar dan mengajar sejarah adalah Peta. Peta dianggap sebagai sarana yang relevan agar siswa-siswa di kelas bisa lebih mudah dalam memahami materi sejarah.”

Disamping itu, proses pembelajaran melalui peta akan mampu menggugah dan membangkitkan nasionalisme. Sebab melalui peta, tentu  mampu berbicara tentang kajayaan bangsa sejak masa lampau hingga menanamkan rasa takjub dan bangga akan wilayah Indonesia yang begitu luas hingga masa kini. Serta mampu menanamkan semangat perjuangan akan keutuhan wilayah NKRI hingga masa yang akan datang.

Melalui informasi dari peta,  kita juga bisa merekonstruksi peristiwa sejarah bangsa di masa lampau dari aspek kewilayahan. Misalnya, ketika berbicara tentang kesuksesan Kerajaan Sriwijaya sebagai negara nusantara yang pertama. Begitu pula Kerajaan Majapahit sebagai negara nusantara kedua. Tentu tidak terlepas dari peran informasi dari peta untuk menunjukkan wilayah yang dikuasainya. Artinya untuk bicara tentang kejayaan kedua kerajaan tersebut, tidak mungkin seorang guru sejarah tidak membicarakan peta. Mustahil anak didik paham yang dimaksud dengan istilah nusantara tanpa kehadiran informasi berbasis kewilayahan tersebut.

Demikian halnya ketika sedang membicarakan proklamasi kemerdekaan. Untuk memahami teks proklamasi yang berbunyi “Hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan…….” sesungguhnya dalam hal itu pun kita sedang berbicara tentang peta. Dalam konteks pemindahan kekuasaan, bagaimana mungkin kita bisa mengerti akan wilayah yang mengalami pemindahan kekuasaan tersebut tanpa peta.

Termasuk dengan wilayah Indonesia yang disepakati dalam sidang kedua PPKI (19/8/1945), bahwa telah ditetapkan menjadi 8 propinsi. Diantara propinsi tersebut adalah Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sunda Keci, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Tentu semua ini sedang berbicara tentang peta juga.

Bahkan tidak sampai disitu. Mengajarkan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah kelautan kita, tetap membutuhkan peta. Misalnya, ketika mengajarkan perjuangan Juanda  tahun 1957 untuk kejelasan wilayah teritorial laut kita. Perjuangan tersebut menghasilkan Deklarasi Juanda yang menjadikan wilayah laut teritorial bangsa kita menjadi 12 mil yang sebelumnya hanya 3 mil saja sejak era kolonial Belanda.

Masih banyak lagi pembelajaran sejarah yang memerlukan peta. Masihkah kita mengingkarinya? Atau akankah kita melupakan peta dalam pembelajaran sejarah? Bagi saya pribadi, belajar sejarah tanpa peta itu, sama seperti nakhoda tanpa petunjuk arah (kompas). Tidak tahu sedang di mana dan mau ke mana.

Sebagai tambahan, bandingkan juga dengan pendapat rekan-rekan kerja saya yang juga merupakan guru sejarah seputar tentang arti pentingnya peta tersebut dalam proses pembelajaran sejarah. Selengkapnya bisa disaksikan pada tayangan berikut.

Untuk itu, kita patut berterimakasih kepada pihak yang terus memperhatikan serius tentang kehadiran peta dan termasuk dalam dinamikanya terutama kepada pihak Badan Informasi Geospasial. Dengan demikian  pembelajaran sejarah pun makin berwarna dan memperkaya proses pembelajaran.

Referensi :

http://www.bakosurtanal.go.id

http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditsejarah/2015/05/20/menciptakan-bahan-ajar-sejarah-yang-menarik/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s