Biarkan Buku Bertemu dengan Pembacanya

WhatsApp Image 2019-02-09 at 13.57.36
Sumber : @KataHati

Sungguh tidak mudah mendapat tantangan menulis artikel dengan orang yang tidak kita kenal dan belum pernah bertemu sama sekali. Uniknya lagi, tempat tinggal anggota timnya pun berjauhan.

Diakhir tantangan (tantangan ke-10) dari @KataHati, kami bertiga (Thurneysen, Bekasi – Aya Elfa, Salatiga, dan Lintang, Samarinda) mencoba meramu sebuah tulisan yang sudah diberikan tema oleh penyelenggara. Tentu hanya dengan mengandalkan sarana komunikasi, whatsapp.

Tulisan berikut yang berjudul “Biarkan Buku Bertemu dengan Pembacanya” ini adalah hasilnya. Selamat menikmati rekan-rekan pembaca.

*****

 

“Books are the carriers of civilization. Without books, history is silent, literature dumb, science crippled, thought and speculation at a standstill. They are engines of change, windows on the world, lighthouses erected in the sea of time.” — Barbara W. Tuchman

(Buku adalah pembawa peradaban. Tanpa buku, sejarah itu sunyi, sastra itu bodoh, sains lumpuh, pemikiran dan spekulasi terhenti. Buku adalah mesin perubahan, jendela dunia, mercusuar yang didirikan di lautan waktu.)

“Buku adalah jendela dunia”

Baca
Dokumen pribadi Thurneysen

Kita pasti sudah sering mendengar kutipan di atas. Dari kutipan tersebut kita bisa menjelaskan bahwa dari buku kita dapat menggali banyak hal yang bermanfaat. Dari buku juga kita dapat mengetahui seisi dunia, sejarah, kisah orang-orang yang hebat, dan hal menyenangkan lainnya.

Bayangkan saja, betapa pentingnya buku dalam kehidupan kita. Bukan hanya itu. Buku juga dapat menciptakan pengaruh yang besar dalam kehidupan. Dari buku-buku jaman kuno, para ilmuwan mengembangkan berbagai macam pengobatan. Penemuan semakin luar biasa banyaknya. Peta dan rute-rute perjalanan untuk mengelilingi dunia pun juga dapat kita temukan dari buku.

Saat mengunjungi toko buku kita akan disuguhkan beragam buku dengan genre yang yang terkadang membuat kita bingung saat hendak memilih. Fiksi atau non fiksi, semua buku pasti memiliki nilai plus dan minusnya. Dalam keadaan seperti ini, kita harus cakap dalam memilih buku yang benar-benar bermanfaat.

Apalagi di zaman sekarang, banyak tulisan-tulisan vulgar, radikalisme,  fundalisme, dan yang lainnya menjadi bagian dari buku-buku yang dijual bebas dipasaran.

Tinggal kita sebagai pembeli yang harus jeli dalam memilih, mana buku yang baik untuk dijadikan asupan dan mana buku yang sekiranya tidak perlu kita baca jika hasilnya akan menimbulkan pengaruh negatif dalam diri kita.

Nah, kalau bicara tentang ragamnya buku-buku yang beredar di masyarakat, tentu tidak selamanya orang sependapat dengan isi sebuah buku. Mungkin akan ada yang pro dan kontra. Kehadiran sebuah buku maupun tulisan, bisa saja akan mengganggu ketenangan sebuah rezim karena dianggap sebuah kritik yang membahayakan. Ada pula yang dapat mengusik kepentingan kelompok tertentu. Bahkan kekhawatiran terhadap masuknya ajaran atau ideologi yang berbeda yang dianggap dapat memengaruhi sebuah masyarakat dan bangsa.

Sejarah mencatat, bahwa di dunia ini ada saja sikap yang berusaha untuk memberangus kehadiran buku-buku maupun tulisan yang dimaksudkan. Misalnya, pada era kolonialisme, tulisan dari Suwardi Suryaningrat yang berjudul “Als Ik Een Nederlander Was”. Kehadiran tulisan tersebut membuat pihak Belanda geram, bukan saja melarang tulisan tersebut bahkan sampai Suwardi Suryaningrat pun dibuang ke negeri Belanda.

Begitu juga Era Orde Baru, banyak buku yang diberangus dan dinyatakan sebagai buku-buku terlarang yang dianggap sebagai buku yang bernuansa Komunisme dan Marxisme terutama setelah keluarnya TAP MPRS No. XXV/MPRS/1966. Misalnya buku-buku tulisan Bung Karno, Tan Malaka dan Pramoedia Ananta Toer.

Bagaimana dengan era sekarang? Masih ada ternyata.

Baru-baru ini tentu kita dikejutkan dengan sebuah pemberitaan tentang “Pihak aparat kepolisian dan militer melakukan razia dan menarik buku-buku yang diduga mempropagandakan PKI dan berpaham komunis di daerah Kediri, Jawa Timur” (sumber: www.tirto.id) dan hal itu bukan kali pertamanya terjadi di era reformasi.

Sontak berbagai pihak mulai kontra dengan tindakan tersebut. Seorang penulis di tahun 2016 pernah mengatakan bahwa “Sejak tahun 2010 Mahkamah Agung sudah mencabut kewenangan Jaksa Agung untuk melakukan pelarangan buku pada UU Nomor 4/PNPS/1963.” (sumber: Kompas.com)

Pernyataan senada juga pernah juga dilontarkan oleh Najwa Shihab “Saya memahami sensitifitas yang menyelimuti isu komunisme dan peristiwa sejarah yang menyertainya pada tahun 1948 dan 1965. Tapi menyikapi isu ini dengan pemberangusan buku adalah tindakan yang tidak tepat. Negara pun lewat keputusan Mahkamah Konstitusi tahun 2010 juga sudah jelas mencabut kewenangan Kejaksaan Agung untuk melakukan pelarangan buku tanpa izin pengadilan,” (sumber: detik.com)

Artinya, dari kedua pernyataan tersebut dijelaskan bahwa pelarangan sebuah buku tidak bisa dilakukan sembarangan tanpa seijin pengadilan. Tentu hal itu pun harus sudah melalui sebuah proses yang panjang, baik pengujian dan pembuktian.

Sesungguhnya, pemberangusan buku seolah mematikan kebebasan masyarakat dalam mengakses sumber bacaan. Seorang anak yang ingin mengetahui sejarah masa lalu bangsanya bisa jadi telah terkekang haknya. Seorang mahasiswa yang sedang dalam tingkat akhir penelitian, bisa saja sedang diputus akses masa depannya. Pada lingkup yang lebih luas, dunia literasi bangsa kita telah cacat dan ternoda.

Aksi pemberangusan buku ini harus mendapat perhatian yang serius, tidak cukup hanya disoroti oleh pihak-pihak  seperti penerbit ataupun penulis buku terkait.  Seyogyianya semua pihak perlu menunjukkan kepedulian dan sinergi serta mengecam hal seperti itu, agar tidak terulang kembali. Para penggiat literasi, penikmat buku bahkan para pemangku kebijakan tidak boleh tinggal diam.

Terkait jenis buku yang baru-baru ini diberangus, dalam beberapa berita, buku-buku yang mendapat aksi ini adalah buku yang mengindikasikan tulisan tentang isu kebangkitan PKI sebagai asal muasal pemberangusan buku yang terjadi. PKI adalah produk lama, yang tersisa hanyalah isu  yang disebar dari mulut ke mulut. Entah untuk menyudutkan pihak tertentu atau menyebar ketakutan belaka di masyarakat. Jadi menurut hemat kami semestinya pemberangusan itu tidak selayaknya terjadi.

Kepada para oknum yang ingin memberangus buku, alih-alih buku tentang sejarah perjalanan bangsa, beranguslah buku-buku yang  memang menyebarkan perpecahan, mematikan nalar masyarakat. Tentu setelah memiliki dasar hukum yang kuat untuk melakukannya.

Karena sejujurnya, para pemberangus lebih menyedihkan daripada seorang buta huruf.

___________________

Sumber Referensi :

https://nasional.kompas.com/read/2016/05/12/21141091/Pemberangusan.Buku.Dinilai.Melanggar.Konstitusi.

https://news.detik.com/berita/d-3212849/najwa-shihab-bicara-soal-pemberangusan-buku-di-tengah-isu-komunisme

https://tirto.id/aparat-razia-dan-tarik-buku-diduga-propaganda-pki-di-kediri-dcHl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s