Siapkah Kabupaten Bekasi Memasuki Era Industri 4.0 ?

20190720_172112
Kantor Pemerintahan Kabupaten Bekasi (dokpri)

Akhir-akhir ini, bangsa kita sedang dilanda “demam” era Industri 4.0. Lihat saja di berbagai kesempatan; seperti forum diskusi, acara talkshow, seminar, hingga buku-buku baru yang dipajang di toko buku. Era Industri 4.0 telah menjadi isu hangat dan teramat penting untuk diperbincangkan dan dikupas. Baik itu seputar kendala dan tantangan yang akan dihadapi, hingga kesiapan dan strategi yang harus segera dipikirkan.

Pemerintah pusat sendiri, dalam hal ini Kementerian Perindustrian, telah mencanangkan sebuah “roadmap” (peta jalan) yang dikenal dengan Making Indonesia 4.0. Diharapkan “roadmap” tersebut akan menjadi strategi ketika memasuki era Industri 4.0.

Perlu kita tahu, bahwa era revolusi industri keempat ini tentu sangat berbeda jauh dengan revolusi industri sebelumnya yang masih banyak mengandalkan tenaga manusia. Pada era Industri 4.0, sebaliknya akan banyak memanfaatkan kecerdasan buatan (mesin pintar) yang berbasis teknologi digital dan internet. Bukan saja pada batas proses produksi, melainkan juga pada proses distribusi kepada konsumen.

Semakin hari, makin gencar saja perubahan yang terjadi. Meminjam pandangan Rhenald Kasali dalam buku The Great Shifting, bahwa sesungguhnya kita harus mampu menampilkan gagasan fundamental dalam gelombang peralihan seperti sekarang ini. Misalnya dari peradaban industri menuju ke peradaban digital, dari perusahaan konvensional menjadi platform, bahkan hingga pada perubahan perilaku kehidupan. Jika tidak, cepat atau lambat akan terjadi proses “distruption”. Para “incumbent” atau pemain lama akan tergantikan oleh pemain baru yang lebih kreatif dan inovatif.

Pertanyaannya, bagaimana dengan Kabupaten Bekasi, yang “notabene” memiliki sebuah kota industri terbesar di Asia Tenggara, yakni di Cikarang, sudah siapkah bersaing di era Industri 4.0 ini? Kabupaten Bekasi harus sungguh-sungguh berbenah dan berselancar dalam berbagai gelombang perubahan. Apalagi mengingat bahwa sektor industri adalah salah satu sektor andalan dalam menyerap tenaga kerja bagi masyarakat Kabupaten Bekasi.

Sementara disisi lain, kita tahu bahwa Kabupaten Bekasi ternyata masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan berhubungan dengan ketenagakerjaan. Salah satunya, masih tingginya angka pengangguran di Kabupaten Bekasi. Berdasarkan data terakhir (4 Februari 2019) data BPS Kabupaten Bekasi, yakni mencapai 172 ribu jiwa atau sekitar 10.97 persen.

Paradoks memang. Kabupaten yang memiliki kota industri terbesar di Asia Tenggara, tetapi warganya masih banyak yang menganggur.  Bisa dibayangkan, bahwa kawasan industri di Cikarang merupakan kawasan industri yang potensial mengingat terdapat sekitar 2.125 unit pabrik. Bahkan Cikarang mampu menyumbang sebesar 34,46% Penanaman Modal Asing Nasional, serta 22-45% volume ekspor nasional.

Konon lagi era Industri 4.0 sudah di depan mata. Dimana karakteristik Industri 4.0 itu sendiri adalah industri yang ramping dengan tenaga kerja. Bisa-bisa masalah yang satu belum terselesaikan, sementara tantangan lainnya sudah hadir di depan mata.

Kembali kepada masalah pengangguran. Sesungguhnya masalah pengangguran tersebut bukan tanpa alasan. Menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Bekasi Edy Rochyadi “Jadi banyak faktor daerah yang datang ke Bekasi, selain daerah industri dan jasa. Nilai upah minimum juga tinggi. Jadi begitu banyak yang datang, dan yang datang itu juga belum tentu mendapat kerja, sehingga menganggur dan berlama-lama di Kabupaten Bekasi. Dan pada akhirnya masuk pendataan BPS,” (dalam www.jpnn.com).

Dalam sebuah kesempatan, Bupati Bekasi, Eka Supria Atmadja, memang sudah menanggapi tentang hal itu, bahwa “Pemerintah sudah mengimbau kepada setiap perusahaan agar memprioritaskan warga asli Kabupaten Bekasi. Dalam waktu dekat, Perbub akan kita keluarkan.” (dalam wartakota.tribunnews.com).

Pertanyaannya apakah cukup demikian? Tentu tidak, ada banyak langkah antisipasi lainnya yang melengkapinya sehingga jauh lebih menjawab.

Misalnya, lima program prioritas yang telah ditetapkan Eka Supria Atmaja ketika dilantik menjadi Bupati Bekasi untuk sisa masa jabatan 2017-2022 pada pertengahan Juni 2019 lalu. Kelima program prioritas ini merupakan angin segar bagi pembenahan Kabupaten Bekasi, termasuk dalam urusan meningkatkan serapan tenaga kerja.

Adapun kelima program prioritas yang merupakan bagian dari program kerja yang telah disusun dalam Rencana Pembangunan Jangkan Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bekasi Tahun 2017-2022 adalah investasi, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, ketenagakerjaan, dan pelayananan publik.

Berharap kelima program prioritas ini, tidak hanya berada pada tataran wacana, tetapi langsung tereksekusi dalam berbagai program nyata. Tentu dengan dukungan semua pihak. Sehingga lima program ini dapat menjadi jawaban bagi harapan masyarakat Kabupaten Bekasi. Terutama dalam menyelesaikan berbagai masalah pengangguran dan memberikan berbagai terobosan baru, mengingat kedepannya tantangan yang dihadapi akan jauh lebih kompleks seperti yang sudah dipaparkan terdahulu.

Sekali lagi kita harus sepakat. Ini bukan semata tugas pemerintah, tapi butuh sinergi antara pemerintah-swasta-masyarakat. Kalau pemerintah hadir sebagai pembuat regulasi, swasta penyedia lapangan kerja  (industri), maka masyarakat harus membangun semangat kompetisi, optimisme, mengembangkan kreativitas dan hasrat berinovasi.

Kemudian, institusi pendidikan harus hadir  sebagai penyedia Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan mampu bersaing, tertantang mencipta dan berinovasi. Pemerintah dalam hal ini harus terus mendorong dan memperhatikan SMK yang mampu menyediakan SDM terampil yang akan memenuhi kebutuhan industri yang kekinian. Begitu juga dengan perguruan tinggi dirangsang untuk menyediakan berbagai jurusan yang relevan dengan kebutuhan industri 4.0 tersebut.

Selanjutnya dengan mendorong berbagai balai latihan kerja agar melahirkan generasi-generasi yang kreatif dan inovatif. Terutama bagi mereka yang berasal dari generasi milenial atau Generasi Y yang melek dengan teknologi informasi dan komunikasi. Sebab di era Industri 4.0 ini, era industri kreatif dan inovatif akan bertumbuh subur.

Nah, terutama menjelang Hari Ulang Tahun Bekasi ke-69, hendaknya semangat kompetisi, berkreasi dan berinovasi juga semakin ditumbuhkan di tengah masyarakat demi kesiapan menghadapi era Industri 4.0, demi kemajuan dan kejayaan warganya.

Akhir kata, sebaik apa pun program pilihan pemerintah, tanpa dukungan dan sinergi dari berbagai pihak, hanyalah tinggal program semata. Maka, tularkanlah semangat sinergi kepada setiap insan, sehingga kita dapat bergandeng tangan memasuki era Industri 4.0 dan meraih berbagai kesuksesan.

Salam

Sumber Referensi :

  1. Kasali, Rhenald. 2018. The Great Shifting. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
  2. https://bekasikab.bps.go.id/statictable/2019/02/04/47/tingkat-pengangguran-terbuka-tpt-di-kabupaten-bekasi-2013-2017.html
  3. https://finance.detik.com/advertorial-news-block/d-3619600/kawasan-industri-cikarang-terbesar-di-asia-tenggara
  4. http://humas.bekasikab.go.id/berita-631-eka-supria-atmaja-resmi-dilantik-jadi-bupati-bekasi-ini-program-prioritas-yang-akan-dilakukan.html
  5. https://www.jpnn.com/news/jumlah-pengangguran-di-kabupaten-bekasi-masih-tinggi
  6. http://www.kemenperin.go.id/artikel/18967/Making-Indonesia-4.0:-Strategi-RI-Masuki-Revolusi-Industri-Ke-4
  7. https://wartakota.tribunnews.com/2019/03/11/wilayahnya-disebut-kawasan-industri-terbesar-di-asia-tenggara-penganggurannya-ratusan-ribu-orang?page=2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s