Koperasi Zaman Now: Sudah Saatnya Melibatkan Semangat Kolaborasi dan Inovasi Generasi Milenial

Milenial
Dokumentasi Pribadi

Masih pernahkah rekan pembaca mendengar atau mendiskusikan isu-isu seputar koperasi?  Jangan-jangan diantara rekan pembaca ada yang aktif sebagai pengurus atau anggota dari sebuah koperasi. Atau memiliki pengalaman menarik dengan koperasi, karena pernah merasakan manfaatnya.

Nah, kalau Anda sedang mendengar tentang koperasi, kira-kira apa yang terlintas dalam benak rekan pembaca? kuno atau ketinggalan zaman?

Menurut hemat penulis, sesungguhnya tidak ada kata ketinggalan zaman untuk konsep koperasi, yang ada tidak berinovasi sesuai dengan zamannya.

Mengapa saya katakan demikian?

Mari kembali kita perhatikan pernyataan yang tertulis pada bagian Batang Tubuh UUD 1945, tepatnya pada pasal 33 ayat 1. Bahwa “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan”.

Pertanyaannya, apakah konsep yang demikian sudah usang? Jawabannya, tentu tidak. Sampai kapan pun, konsep usaha bersama berdasarkan azas kekeluargaan tidak akan ada kata usang. Sebagai bagian dari masyarakat, kebersamaan dan kekeluargaan adalah satu hal yang prinsip.

Kalau kita melihat perusahaan-perusahaan di sekitar kita, masih ada loh yang tetap antusias untuk mendorong keberadaan koperasi di perusahaannya demi menyejahterakan karyawannya. Sebut saja seperti Multi Inti Sarana Group (MIS Group).

MIS Group sendiri hingga saat ini memiliki dua jenis koperasi. Koperasi Simpan Pinjam Multi Yatra Sejahtera dan Multi Jasaguna Prima.

MIS

MIS-2.jpg

Sebagai seorang guru, saya jadi ingat dengan konsep “4C” yang selalu kami tekankan kepada anak didik di sekolah. Konsep “4C” yang saya maksudkan merupakan ketrampilan (kecakapan) abad 21 yang harus dimiliki oleh seorang siswa. Communication, Collaborative, Critical Thinking, dan Creativity. Salah satu konsep dari “4C” yang ingin saya tekankan dalam tulisan ini adalah colaboration (kerjasama).

SDH
Bentuk Kerjasama Siswa (Dok. Rudi Wijaya – Kep.Sek SDH Lippo Cikarang

Kita tidak dapat memungkiri bahwa kerjasama ternyata menjadi modal besar di era digital dan era internet seperti sekarang. Saya baru-baru ini membaca tulisan dari Prof. Rhenald Kasali, PhD., dalam buku #MO – Sebuah Dunia Baru yang Membuat Orang Gagal Paham”.

Dalam buku tersebut dikatakan bahwa “Saat ini, dalam connected society terjadi shifting. Dari kekuatan industri yang melahirkan penguasaan aset perekonomian beralih ke kerumunan (crowd) besar”.

Selanjutnya dalam buku tersebut ditegaskan juga bahwa barang-barang modal yang tersebar luas di masing-masing rumah tangga dan masih diperlakukan sebagai barang konsumsi kecil-kecil. Tapi jika dipersatukan, akan menjadi kegiatan ekonomi yang produktif bahkan bisa melahirkan unicorn (sebuatan bagi platform yang nilai valuasinya telah menyentuh USD1 miliar).

Bukankah akhir-akhir ini kita melihat fenomena gerakan para startup milenial dengan konsep kerjasama semakin masif? Lihat saja bagaimana kehadiran Gojek. Prinsip yang dihadirkan Gojek sejak awal adalah prinsip kerjasama.

Misalnya, untuk menyelesaikan masalah kemacetan di Jakarta saat itu, perusahaan ini mengajak dan menawarkan kerjasama kepada masyarakat pemilik kendaraan (mobil dan motor). Artinya Gojek lebih kepada kepemilikan teknologi (platform), sementara modal armadanya dari masyarakat luas (siapa saja boleh!)

Saya meyakini bahwa pendiri Gojek (Nadiem Makarim) benar-benar telah memiliki atau menerapkan kecakapan abad 21 tersebut dalam memulai dan menjalankan bisnisnya.

Ketika membuat tulisan ini, saya pun sengaja membuka kembali rekaman pidato singkat beliau sewaktu mengadakan serah terima jabatan bersama Muhazir Effendi di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (23/10/2019). Ada satu hal penting yang tidak lupa diselipkan dalam pidatonya, yakni kata gotong royong (kerjasama). Kira-kira seperti apa kutipan pidatonya yang berhubungan dengan konsep kerjasama ya?

“Kalau ada satu tema yang akan saya gong-kan selalu satu prinsip adalah prinsip gotong royong. Itu adalah satu hal yang benar-benar unik di Indonesia ini. Bagian dari adat kita dari dulu sampai sekarang. Dan itu adalah suatu azas, suatu value, yang akan saya bawa ke dalam semua aktivitas berinteraksi kita. Baik di level kementerian, baik di level dengan menteri-menteri lainnya, baik dengan guru, kepala sekolah, dan berbagai macam pemerintah daerah. Semua azas gotong royong ini akan menjadi kata kunci di perjalanan kita bersama.”

Sekarang, kita kembali pada bahasan koperasi. Sesungguhnya apa yang dimaksud dengan koperasi? Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian, pasal 1 ayat 1, “Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan.”

Sementara kalau kita berbicara fungsi dan perannya adalah untuk membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya; berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat; memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan Koperasi sebagai sokogurunya; serta berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi. (Pasal 4).

MIS-3

Pertanyaannya, bagaimana agar fungsi dan peran koperasi tersebut dapat benar-benar terwujud secara maksimal?

Era yang serba digital seperti sekarang ini, tentu peran generasi milenial yang sarat dengan kreativitas dan inovasi harus diberi ruang. Apalagi generasi milenial adalah generesai yang melek dengan teknologi digital.

Oleh karena itu, koperasi yang kita sebut sebagai sokoguru perekonomian bangsa, sudah saatnya melakukan rebranding menjadi Koperasi Digital, koperasi yang kekinian di tangan generasi milenial. Intinya Koperasi dan Generasi Milenial harus seperti koin yang memiliki dua sisi.

Saya yakin, negeri ini menyimpan banyak Sumber Daya Manusia yang terpendam, ada banyak “Nadiem Makarim” lainnya yang belum muncul kepermukaan. Sudah saatnya generasi milenial memegang peranan startegis dalam urusan startup dan menumbuhkan kuantitas maupun kualitas wirausaha.

Demi apa? Kemajuan perekonomian bangsa dan persangan global. Apalagi dalam waktu dekat, kita akan berhadapan dengan limpahan bonus demografi. Usia produktif jauh lebih besar dari usia yang tidak produktif.

Harapannya, dengan hadirnya Koperasi Digital yang memiliki semangat kolaborasi dan inovasi, dapat menjadi peluang bagi kesedian lapangan kerja. Selain itu, menjadi modal kita memperkuat ekonomi dalam menghadapi Indonesia Emas 2045, sehingga kita menjadi negara kuat dan mampu bersaing dengan negara-negara maju lainnya. (TS)

___________________

Sumber Referensi :

  1. Kasali, Rhenald. 2019. #MO – Sebuah Dunia Baru yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham
  2. Undang-Undang Dasar 1945
  3. Undang-Undang Republik Indonesia No. 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian
  4. https://multiintisarana.com/koperasi-karyawan/, diakses 2 November 2019 (pkl.14.00 WIB)
  5. Youtube Multi Inti Sarana Group

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s