Merdeka di Era Digital: Merdeka yang Bertanggung jawab

20171208_104221

Merdeka!

Merdeka merupakan satu kata yang amat berharga di zaman kolonial. Kata itu adalah harapan dan doa. Sementara kalau kata itu keluar dari mulut pejuang Indonesia, maka nyawalah taruhannya. Sebab, bangsa penjajah tidak senang kata itu keluar dari mulut bangsa kita sebagai kaum terjajah. Di sisi lain, pejuang kita butuh satu kata seperti itu untuk selalu mengobarkan api semangat perjuangan, demi sebuah cita-cita merdeka.

73 tahun bangsa kita telah merdeka. Bahkan baru saja kita memperingati perayaan 17 Agustus. Apakah kata merdeka relevan dan masih memiliki kekuatan makna yang sama?

Situasi memang sudah berbeda. Kalau dulu kita sedang berjuang merebut kemerdekaan, sekarang kita berjuang untuk mempertahankan dan mengisinya. Kalau dulu merdeka itu berarti bebas dari penjajahan kolonial. Maka sekarang merdeka itu juga berarti bebas dari ketertinggalan dari bangsa lain. Jadi sesungguhnya kekuatan makna merdeka itu tetap sama, yaitu ada sebuah proses perjuangan di dalamnya.

Begitu halnya dengan era sekarang, atau yang kita sebut juga dengan Era Digital. Salah satu yang menjadi ciri khas dari era ini adalah berkembang pesatnya teknologi informasi serta segala aspek kehidupan telah terkoneksi dengan internet. Menurut hemat saya, bahwa era ini pun kita harus merdeka. Hanya seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, bagaimana kita tidak terbelenggu oleh ketertinggalan kita dengan bangsa lain. Jadi, di era digital ini, kita harus dapat memaknai kemerdekaan dengan hal-hal berikut.

Pertama. Bahwa bangsa kita harus mampu bersaing dengan bangsa lain dalam hal digitalisasi. Mulai dari pemanfaatan teknologi digital untuk kehidupan yang lebih baik, pengembangannya, hingga pada perilaku yang ditunjukkan oleh masyarakatnya. Misalnya tidak bermental konsumen (pemakai) saja, tapi harus masuk ke ranah produktif dan inovatif. Sehingga kita bukan semata menjadi bangsa pengguna atau pasar dari negara maju sebagai tempat penjualan produk-produk teknologi digital dari asing.

Dalam hal itu, tentunya dibutuhkan semangat yang kompetitif, membuka diri untuk selalu belajar dan mengembangkan diri, tertarik mengembangkan keingintahuan melalui riset, baik riset dasar maupun riset terapan. Sebab dengan risetlah sebuah negara akan maju. Tanpa riset kita bisa apa?

Kedua. Mengingat era digital sangat terkait dengan teknologi informasi dan akses internet, maka kita harus siap dengan mental merdeka. Kita tidak boleh dikendalikan oleh produk-produk perkembangan teknologi tersebut, sebaliknya kitalah yang harus memegang kendali.

Misalnya, kehidupan masyarakat saat ini seolah tidak dapat lepas dari gadget. Bagi sebagian orang gadget bisa membuat kehidupan semakin produktif dan efektif, tapi tidak bagi sebagian orang. Tidak sedikit orang yang terikat dengan gadget dan bahkan telah”memperbudaknya”. Tidak mampu menempatkan diri, kapan harus memanfaatkan gadget atau kapan tidak menggunakannya. Hal itu adalah salah satu contoh ketidakmerdekaan.

Hidup itu adalah pilihan dan prioritas. Itulah satu bentuk kemerdekaan hidup di era digital tersebut. Ketika kita mampu memilih dan menjadikan produk-produk teknologi digital sebagai pendukung hidup bukan pengganggu kehidupan.

Ketiga. Merdeka bermedia sosial. Sekarang media sosial semakin tinggi saja peminatnya. Bukan saja yang tinggal di kota yang memanfaatkannya, hingga orang yang tinggal di desa pun begitu mudahnya mengaksesnya. Bukan saja orang yang berpendidikan tinggi, bahkan yang hanya sekolah dasar saja pun bisa menggunakannya.

Permasalahannya, ternyata banyak yang tidak merdeka dengan pemanfaatannya. Ada yang dibelenggu dengan ketidakmampuannya untuk memilah informasi yang berupa fakta atau hoaks. Ada yang tidak mampu mengendalikannya untuk menyebarkan berita fiktif. Ada yang semakin terperosok, tidak peduli dengan nilai-nilai keluhuran akan kemanusiaan dan persatuan. Penyebaran ujaran kebencian dan memecah belah menjadi gaya hidupnya.

Sesungguhnya “Merdeka” dan “Tanggung Jawab” adalah dua sisi yang tidak terpisahkan, bagaikan koin dengan dua sisinya. Tanpa salah satu diantaranya, maka koin itu tidak dapat digunakan. Kedua hal itu harus beriringan berjalan. Jika tidak, kemerdekaan itu adalah sebuah kebebasan semu dan bahkan menjadikan kemerdekaan itu sebagai sarana meninabobokan yang membuat kita terbuai, tidak menghargai kebebasan, hingga menjajah kebebasan orang lain.

Kalau beguti yuk cerdas bertindak, bijak bersikap di era digital ini. Jika tidak, kita kembali masuk pada perangkap keterbelengguan.

download

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s